kumpulan pantun remaja,pantun anak anak, pantun dewasa, pantun orang tua, dan pantun teka-teki

PANTUN REMAJA TERBARU 2019 - 2020




Contoh pantun remaja / dewas


gue yogha. gue sekolah di SMA PGRI 2 KAJEN KAB. PEKALONGAN buat kalian yang pingin cari kumpulan pantun lengkap tinggal liat aja di bawah ini, yang mau kopas juga boleh ko, buat yang mau kenal sama gue ini nama akun fb Yogha irawan. selamat melihat


*a. Pantun perkenalan
Darimana hendak kemana
Dari udik hendak ke kota
Kalau boleh abang bertanya
Adik yang cantik siapa namanya

*b. Pantun berkasih-kasihan / percintaan
Ikan belanak hilir berenang
Burung dara membuat sarang
Makan tak enak tidur tak tenang
Hanya teringat dinda seorang

*c. Pantun perceraian / perpisahan
Nagasari cempaka biru
Bunga rampai didalam puan
Rasanya hati sangatlah rindu
 Bilakan sampai kepada tuan

Contoh pantun orang tua

*a. Pantun nasihat
Kemuning ditengah balai
Bertumbuh terus semakin tinggi
Berunding dengan orang tak pandai
Bagaikan alu pencungkil duri


*b. Pantun adat
Lebat daun bunga tanjung
Berbau harum bunga cempaka
Adat dijaga pusaka dijunjung
Baru terpelihara adat pusaka

*c. Pantun agama
Bunga kenanga diatas kubur
Pucuk sari pandan jawa
Apa guna sombong dan takabur
Rusak hati badan binasa

*d. Pantun budi
Anak angsa mati lemas
Mati lemas di air masin
Hilang bahasa karena emas
Hilang budi karena miskin

*e. Pantun kepahlawanan
Redup bintang haripun subuh
Subuh tiba bintang tak tampak
Hidup pantang mencari musuh
Musuh tiba pantang ditolak

PANTUN ANAK-ANAK

Pantun Bersuka Cita

Cerana patah dipijak,
patah dipijak 'ncik siti
Saya ini bukannya bijak
Tambahan tidak mengerti.

Batang perapat saya runtuhkan
Berangan di atas kota
Seberang dapat saya pantunkan
Jangan pula saya dikat

Cina gemuk membuka kedai
Menjual embeh dengan palu
Bertepuk adikku pandai
Boleh diupah dengan susu

Berangan di atas kota
Cerana patah dipijak
Jangan pula saya dikata
Karena saya bukannya bijak

Cempedak di luar pagar
Tarik galah tolong jolokkan
Saya budak baru belajar
Kalau salah tolong tunjukan

Buah ara batang dibantun
Mari dibangun dengan arang
Hai saudara dengarlah pantun
Pantun tidak mengata orang

Apa sesal padanya tudung
tudung saji terendak bantan
Apa sesal padanya untung
Sudah takdir pendapatan di badan

Dari petani pulang ke Padang
membawa unggas bergombak bauk
Pergi pagi pulang petang
membawa beras upah menumbuk

Asam jawa tumbuh di pagar
Berbuah dalam musim penghujan
Kalau tidak menaruh sabar
wallahu a'alm bagian badan

Diatur dengan duri pandan
Gelombang besar membawanya
Melihat yang pergi berjalan
etah kapan kembalinya

Anak beruk di tepi pantai
Masuk ke bendang memakan padi
Biar buruk kain dipakai
asalkan pandai mengambil hati

Dimana ada takkan lusuh
padi basah tidak ditampi
Bagaimana hati tidak kan rusuh
Bunda hilang bapak berbini

Dari Padang ke Tangsi Curup
automobil berbunyi rebut
Hari petang pintu tertutup
diipanggil bunda tidak menyahut

Elok rupanya kumbang janti
dibawa itik pulang petang
Tidak terkata besar hati
melihat itu sudah datang

Jawi hitam tidak bertanduk
memakan rumput di atas mungu
Lihatlah ayam tidak bertanduk
demikian hidup anak piatu

Emas urai dalam geleta
Kain pendukung koyak di bendi
Biar berurai air mata
Ayah kandung tidak peduli

Juragan bernama Sutan Tahrir
muat beras bercampur pulut
Selama adikku lahir
Telah boleh kawan bergelut

Hanyutlah dari pulau kukus
Laba-laba beribu-ribu
Apa kehendak tiada tulus
tambahan tidak menaruh ibu

Hanyut batang berlilit kumpai
terdampar di ujung Tanjung Jati
Bunda pulang bapa pun sampai
kami semua berbesar hati

Hiu beli blanak beli
udang di Manggung beli pula
Adik benci kakakpun benci
orang di kampung dibenci pula.

Kulit lembu celupkan samak
mari dibuat tapak kasut
Harta dunia jangalah tamak
kalau mati tidak mengikut

Lacauan kain selendang
pandan terjemur di ujung pagar
Kawan bermain sama gendang
badan tidur bergulung tikar

Kayu rusak ambil petanak
masaklah pauh diperam serang
Baju tidak celana tidak
kakak jauh dirantau orang

Kita menari di luar bilik
Sebarang tari kita tarikan
Kita bernyanyi adik beradik
Sebarang nyanyi kita nyanyikan

Kelapa muda makan di sawah
tuah haji duduk sembahyang
Ketika bermuka dengan ayah
ibu tiri berupa sayang

Maulah kami hendak melapun
lapun di bawah limau lungga
Maulah kami hendan berpantun
pantun sebuah hilang pula

Sayang pisang tidak berjantung
bunga keluar dari kelopak
Penat sangat ibu mendukung
adik juga tak mau gelak

Manis sungguh tebu seberang
dari akar sampai ke pucuk
manis sungguh mulut orang
kita menangis jadi terbujuk

Pisang mas di bawa berlayar
Masak sebiji di atas peti
Utang emas boleh dibayar
utang budi dibawa mati

Orang Bandung memintal kapas
anak cinta berkancing tulang
Ayang kandung pulanglah lekas
Ananda rindu bukan kepalang

Padi pulut di dalam bendang
banyak rumput dari jerami
Mulit kita disuapi pisang
ekor dikait dengan duri

Rumpun buluh dibuat pagar
cempedak dikerat-kerati
Maklumlah pantun saya belajar
saya budak belum mengerti

Tiada boleh menetak jati
papan di Jawa dibeleh-belah
Tiada boleh kehendak hati
kita dibawah perintah Allah
PANTUN TEKA-TEKI

Kalau tuan bawa keladi
Bawakan juga si pucuk rebung
Kalau tuan bijak bestari
Binatang apa tanduk dihidung?
Beras ladang sulung tahun
Malam malam memasak nasi
Dalam batang ada daun
Dalam daun ada isi
Terendak bentan lalu dibeli
Untuk pakaian saya turun kesawah
Kalaulah tuan bijak bestari
Apa binatang kepala di bawah?
Kalau tuan muda teruna
Pakai seluar dengan gayanya
Kalau tuan bijak laksana
Biji diluar apa buahnya?
Tugal padi jangan bertangguh
Kunyit kebun siapa galinya
Kalau tuan cerdik sungguh
Langit tergantung mana talinya?
Terbang tinggi si burung helang
Hinggap di atas pohon meranti
Anak ramai ibunya seorang
Bila bergesel berapi-rapi
Buah budi bidara mengkal
Masak sebiji di tepi pantai
Hilang budi bicara akal
Buah apa tidak bertangkai?
Budak-budak ramai di pekan
Hari raya membakar petas
Kalau adik pandai kiasan
Apakah buah gugur ke atas?
Tinggi duduk di atas sekali
Bukan bulan bukan matahari
Bila malam ia berseri
Bila siang ia berganti
Tarik pukat dari pangkalan
Gula Melaka dibuat inti
Bila diikat ia berjalan
Bila dibuka ia berhenti
Cik Limah bersama anak lelaki
Duduk makan keropok lekor
Yang mengejar tidak berkaki,
Yang dikejar tiada berekor.
Pergi umrah setiap tahun,
Moga sentiasa murah rezeki
Dalam batang ada daun,
Dalam daun ada isi.
Bila kecil boleh ditiup,
Sudah besar janganlah lagi,
Kalau tercucuk ia meletup,
Kalau terlepas terbangnya tinggi.
Mulut manis hati nak baik,
Itulah amalan turun temurun;
Benda apa yang akan naik,
Apabila saja hujan turun?
Walau dibungkus bukan kiriman,
Sudah takdir tuhan yang satu;
Meski ditanam bukan tanaman,
Cubalah teka apakah itu?
Hidup aman di dalam kota,
Ada pemimpin bernama raja;
Buruh-buruh rajin bekerja,
Askar bertugas setiap masa.
Kalau Tuan pergi ke kedai
Belikan saya buah keranji
Kalau tuan bijak pandai
Apa binatang keris di kaki?
Ada sebiji roda pedati
Bentuknya bulat daripada besi
Bila bermain diikat sekuat hati
Dilempar hidup dipegang mati?
Buah budi bedara mengkal
Masak sebiji di tepi pantai
Hilang budi bicara akal
Buah apa tidak bertangkai?
Burung nuri burung dara
Terbang ke sisi taman kayangan
Cubalah teka wahai saudara
Semakin diisi makin ringan?
Bunga orkid indah warnanya
Penyeri taman dan juga hutan
Ramai orang datang bertanya
Bintang apa hidup di lautan?
Pak Pung Pak Mustafa
Encik Dollah dirumahnya
Ada tepung ada kelapa
Gula Melaka jadi intinya
Kelip-kelip kusangka api
Kalau api mana asapnya?
Hilang ghaib disangkakan mati
Kalau mati mana kuburnya?
Budak-budak bermain batu
Batu dikira satu persatu
Badannya lurus bermata satu
Ekornya tajam apakah itu?
Jika tuan membeli tikar
Tikar anyaman dari mengkuang
Kalau Tuan bijak pintar
Ular apa membelit pinggang?
Masak tumis sambal petai
Makan kenyang sambil sendawa
Anda menziarah sahabat handai
Buah apakah yang akan dibawa?
Pokoknya bulat dan juga rendang
Masam dan hijau ketika muda
Buahnya berbentuk seperti bintang
Sudah masak, kuninglah ia
Belayar perahu dari Bentan
Menyusur tepi Selat Melaka
Lebar kepala dari badan
Apakah ikan cubalah teka?
Mak Minah menanak minyak
Kemenyan dibakar dengan setanggi
Dua peha beranak banyak
Untuk mendaki tempat yang tinggi?
Orang bekerja diberikan upah
Hidangan disaji dalam talam
Gajah putih ditengah rumah
Layar terkembang di waktu malam?
Gigi berduri tatah bersigai
Pembelah kayu ia berguna
Jika tuan orang yang pandai
Benda apakah makannya dua cara?
Jika ke kedai pergi berbelanja
Belikan saya sudu dan senduk
Jika pandai katakan ia
Semakin berisi semakin menunduk?
Kalau tuan pakai lencana
Pakailah songkok di atas kepala
Kalau Tuan bijak laksana
Binatang apakah tiada kepala?
Pisau lipat dimainnya kera
Tangannya luka lalu terjun
Makan kuat tidak terkira
Kenyangnya tidak tahi bertimbun?
Minah ketawa terjerit-jerit
Melihat koyak pada seluar
Orang putih duduk sederet
Pagar didalam tebing diluar?
Tuan puteri belajar menari
Tari diajar oleh Pak Harun
Kalau Tuan bijak bestari
Apa yang naik tak pernah turun

Subscribe for our Newsletter

RE-IMAGINING THE WAY
Back to top